Wahai Orang Tua !! Perhatikanlah Dengan Siapa Anakmu Menuntut Ilmu


Generasi yang shalih dan shalihah adalah harapan dan cita-cita setiap individu muslim dan muslimah semenjak memutuskan untuk berumah tangga. Sehingga dia berusaha memilih calon pasangan hidup yang cocok dan sesuai dengan ketentuan syariat, dengan harapan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengaruniakan kepadanya keturunan baik yang diharapkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ ءَايَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ؛ لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, kalau tidak niscaya kamu akan merugi.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Adapun usaha berikutnya adalah meminta dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dikaruniai keturunan yang shalih dan shalihah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانَ أَبَدًا

“Seandainya salah seorang kalian apabila hendak menggauli istrinya dia berdoa (yang artinya): Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami; maka sesungguhnya apabila ditakdirkan mendapat keturunan melalui hubungan tersebut, setan tidak akan memudaratkannya selamanya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan keturunan, maka bertambah banyak tanggung jawabnya: kewajiban memelihara, menafkahi, dan mendidik. Yang paling besar adalah tanggung jawab untuk mendidiknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

Sufyan Ats-Tsauri berkata dari Manshur, dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu: “Didiklah mereka dan ajarilah mereka.” Mujahid rahimahullahu berkata: “Bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berwasiatlah (berilah nasihat) kepada keluarga kalian dengan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/332)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:

"Seorang hamba tidak akan selamat (dari adzab-Nya) kecuali dia menegakkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya dan pada orang-orang yang ada di bawah tanggung jawabnya, seperti istri, anak, dan selain mereka.”

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Pimpinan negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang kepala rumah tangga adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya, dan akan ditanya tentang rakyatnya. 

Seorang pembantu adalah yang bertanggung jawab tentang harta tuannya dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Maka masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang rakyatnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa tarbiyah dan pendidikan anak adalah tanggung jawab orangtua atau wali. Namun tatkala dihadapkan kepada realita keterbatasan ilmu, kemampuan, dan kesempatan yang dimiliki oleh orangtua atau wali, mereka menyerahkan tanggung jawab tarbiyah dan pendidikan tersebut kepada lembaga-lembaga tarbiyah yang telah tersedia, atau kepada para pendidik seperti ustadz dan ustadzah yang memiliki kemampuan dan tanggung jawab pendidikan. Tentunya juga harus didukung dengan lingkungan yang kondusif dan prasarana yang cukup.

Dari sinilah kita dapat menyatakan bahwa tarbiyah dan pendidikan itu akan berjalan dengan baik, insya Allah, jika ditopang oleh empat hal:

1. Kesadaran orangtua atau wali.
2. Pendidik atau lembaga tarbiyah yang berakidah dan bermanhaj yang benar, serta memiliki kesadaran tanggung jawab tarbiyah.
3. Lingkungan yang kondusif untuk tarbiyah.
4. Sarana dan prasarana.

Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memasukkan anak ke sebuah lembaga tarbiyah adalah dengan memerhatikan keadaan lembaga tersebut serta para pendidiknya yang:

1. Berakidah dan bermanhaj yang benar (Ahlus Sunnah wal Jamaah).
2. Berilmu dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Berakhlak mulia dan sabar.
4. Bertanggung jawab terhadap tarbiyah anak.
5. Lingkungan yang baik.

Hal ini karena pendidikan anak (tarbiyatul aulad) adalah tanggung jawab orangtua atau wali, sehingga harus benar-benar diperhatikan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Ma’arij: 32)

Sehingga orangtua atau wali seharusnya mencarikan teman duduk yang terbaik bagi anaknya, yaitu ustadz atau ustadzah, para pembantu pendidikan, serta teman-teman belajar yang baik.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يَحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخِ الْكِيْرِ إِمَّا يَحْرِقُ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْتِنَةً

“Hanya saja permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti orang yang membawa minyak wangi (misik) dan orang yang meniup tungku (untuk membakar besi). Orang yang membawa misik, mungkin akan memberimu misik tersebut, atau mungkin engkau akan membelinya dari dia, atau engkau akan mendapatkan bau wangi darinya. Adapun peniup tungku (untuk membakar besi) mungkin akan membakar pakaianmu (dengan percikan api), atau mungkin engkau akan mendapatkan bau tak sedap darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Lingkungan memiliki andil yang besar dalam tarbiyah. Lihatlah bimbingan seorang yang berilmu kepada orang yang telah membunuh seratus orang tatkala ia ingin bertaubat:

انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ تَعَالَى فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضٌ سُوءٌ

“Pergilah ke negeri demikian dan demikian, karena di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu karena negerimu adalah negeri yang buruk.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Muhammad bin Sirin rahimahullahu berkata:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Sumber:sunniy.com