Kita atau Televisi yang Lebih Penting Bagi Anak?
Agustus 25, 2017
Sebuah layar kaca bernama televisi rasanya sudah hampir memasuki setiap sudut rumah keluarga Muslim. Keberadaannya bahkan telah menggantikan peran orangtua bagi sebagian anak. Apakah ini berbahaya? Tentu saja.
Perilaku anak dapat terbentuk karena 4 hal:
Siapakah yang lebih dulu mengajarkan kepadanya sebuah informasi yang menjadi dasar pemikirannya, kita atau TV?
Siapa yang dia percaya, apakah anak percaya pada kata-kata kita sebagai orangtua atau ketepatan waktu program-program TV?
Siapa yang cara menyampaikan informasinya lebih menyenangkan, apakah kita ketika menasehatinya atau program-program TV yang lebih menyenangkan?
Siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?
Dari 4 pertanyaan tersebut, tentu kita dapat menyimpulkan hasil akhir berupa perilaku anak yang terbentuk karena informasi terus-menerus yang dia dapatkan.
Pertama, informasi awal yang diterima atau kita sebut sebagai maklumat tsabiqoh adalah hal yang sangat penting yang menjadi salah satu komponen dalam terbentuknya sebuah pemikiran. Jika informasi yang diterima anak salah, maka dikhawatirkan akan membentuk pemikiran anak menjadi pemikiran yang salah pula. Pemikiran akan menjelma menjadi pemahaman dan keyakinan yang terealisasi menjadi sebuah tindakan atau biasa kita sebut perilaku.
Coba kita bayangkan seandainya anak melihat tayangan bahwa mencuri itu boleh seperti tokoh Robin Hood misalnya, harta yang dicuri dibagikan ke fakir miskin. Maka anak tidak mengetahui bagaimana konsep kepemilikan, mana yang halal dan haram. Dia hanya tahu bahwa tokoh idolanya melakukan itu dan orang-orang membolehkannya.
Maka pemahaman ini tentu akan sangat berbahaya. Belum lagi informasi-informasi lainnya yang tidak terbendung arusnya.
Kedua, bayangkan bagaimana jika anak lebih percaya dan taat pada televisi dibanding apa yang kita sampaikan. Misalnya, dia lebih menganggap penting program TV favoritnya dibanding perintah untuk melaksanakan shalat.
Seorang anak harus ditanamkan perilaku baik sejak dini. Apa yang dia yakini haruslah berupa kebenaran yang datang dari sumber yang benar. Kita meyakini sumber tersebut haruslah Al Qur’an dan sunnah sehingga anak akan terbimbing memiliki perilaku yang mulia.
Ketiga, sudah kita ketahui bersama bahwa televisi adalah media kapitalisme dalam memasarkan produk mereka. Maka apa yang disajikan televisi pastilah telah dikemas semenarik mungkin agar layak tonton. Dan jika orangtua tidak pandai dalam menyampaikan nasehat menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, sudah dapat ditebak siapa yang akan lebih mereka dengar atau terima.
Keempat, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak hanya kualitas yang penting dalam pendampingan tumbuh kembang anak. Kuantitas juga menjadi penunjang seberapa sukses kita menjadi ‘teman’ anak. Siapakah yang lebih banyak menemani mereka, ada saat mereka kesepian, membutuhkan solusi, maka dialah yang akan menjadi sahabat mereka.
Apa yang seharusnya kita lakukan?
Dari 4 hal tersebut dapat disimpulkan bahwa peran utama orangtua sebagai pendidik seharusnya tidak boleh tergantikan oleh sebuah kotak benda mati.Televisi tidak boleh menjadi agen pendidikan bagi anak mengingat dampaknya yang luar biasa bagi perilaku anak.
Maka salah satu solusi adalah dengan membangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita. Gantilah dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang padat bagi anak-anak.
Ganti pula program TV dengan film-film pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif. Semoga ini bisa memberikan sedikit solusi bagi orangtua.
Dan faktor yang terpenting yaitu menanamkan akidah Islam yang benar secara utuh kepada anak agar fondasi perilaku mereka menjadi kokoh dan lurus sebagaimana yang kita harapkan.
Tags
